Di negeri sendiri warga Palestina teraniaya oleh penjajahan Zionis, di pengungsian nasib mereka juga memprihatinkan. Banyak warga Palestina yang meninggal dunia di kamp-kamp pengungsian karena kondisi pengungsian yang buruk dan tidak layak sebagai tempat hiduP.

Seorang perempuan Palestina bernama Suad Abdul Qadir Al-Hallaq dikabarkan meninggal dunia hari Kamis (9/7) di kamp pengungsian Al-Waleed yang terletak di dekat perbatasan Irak-Suriah. Pada Jumat pekan sebelumnya, pengungsi Palestina bernama Shihada Mohammad Abu Hamad juga meninggal dunia di kamp pengungsi yang sama.

Keduanya meninggal karena sebab yang sama, kondisi kesehatan yang buruk dan tidak segera mendapatkan perawatan medis yang layak. Abu Hamad tak tertolong nyawanya karena terlambat mendapatkan perawatan medis dan terbatasnya peralatan kesehatan di klinik yang tersedia di kamp pengungsian Al-Waleed. Sedangkan Suad Abdul Qadir meninggal dunia karena kondisi kesehatannya menurun tajam saat mengantri bersama ratusan pengungsi lainnya di perbatasan Irak-Suriah. Suad, yang sebelumnya menjadi pengungsi di Irak meninggalkan Negeri 1001 malam itu karena situasi keamanan di Irak.

Menurut organisasi Palestinian Union for Palestinian Refugees, sedikitnya ada 1.600 pengungsi Palestina di kamp pengungsian Al-Waleed. Sebagian dari mereka sudah diungsikan ke berbagai negara antara lain Swedia, Norwegia dan AS. Bulan Agustus besok, sebanyak 39 pengungsi rencananya akan diimigrasikan ke Sudan.

Palestinian Right to Return Coalition menyebutkan, sebelum invasi AS ke Irak, terdapat 34.000 pengungsi Palestina di Irak. Setelah AS menjajah Irak, banyak pengungsi Palestina yang mengalami pelecehan, menghadapi ancaman deportasi, ditangkap tanpa tuduhan yang jelas, diculik, disiksa dan dibunuh sehingga mereka banyak yang ingin pindah mengungsi ke negara lain.

Para pengungsi Palestina itu menuju ke negara terdekat dengan Irak yaitu Suriah dan Yordania. Tapi banyak para pengungsi Palestina yang kesulitan masuk ke kedua negara tersebut karena masalah ijin dan hanya bisa menunggu di perbatasan.
Saat ini, para pengungsi Palestina tersebar di beberapa kamp pengungsi di sekitar Irak, Suriah dan Yordania. Kamp-kamp pengungsi itu antara lain;

1. Kamp pengungsi Al-Hol, di wilayah Suriah yang berbatasan dengan Irak. Kamp pengungsi ini awalnya didirikan oleh badan pengungsi PBB, UNHCR pada tahun 1991 untuk menampung warga Irak yang mengungsi akibat penindasan pasca Perang Teluk. Sekarang, kamp pengungsi ini menampung sekitar 305 orang Palestina dan status hukum kamp pengungsi ini tidak jelas di bawah tanggung jawab siapa.

2. Kamp pengungsi Al-Tanaf, berlokasi di wilayah tak berpenghuni di perbatasan Suriah. Di kamp ini terdapat 340 orang pengungsi Palestina yang sudah menetap sejak Mei 2006. Belakangan, jumlah pengungsi Palestina di kamp ini bertambah menjadi 437 orang setelah otoritas pemerintah Suriah menempatkan 97 warga Palestina baru yang berasal dari Irak ke kamp tersebut, karena dianggap telah memalsukan dokumen saat masuk ke Suriah.
Kamp pengungsi ini tidak memiliki fasilitas klinik kesehatan, padahal 10 persen dari jumlah pengungsi membutuhkan perawatan medis. PBB sama sekali tidak memberikan bantuan pada kamp pengungsi ini. Para pengungsi selama ini diurus oleh organisasi-organisasi kemanusiaan lokal.

3. Kamp pengungsi Al-Walee, berlokasi di wilayah Irak yang berbatasan dengan negara Suriah. Kamp pengungsi ini dibangun pada Desember, 2006 dan sekarang menampung sekitar 1.560 pengungsi Palestina. Kamp pengungsi Al-Waleed terletak di kawasan pedalaman dan tak seberapa jauh dari kamp pengungsi Al-Tanaf. Organisasi lokal dan Palang Merah Internasional serta UNHCR membantu memberikan kebutuhan para pengungsi seperti selimut, tenda, makanan dan kebutuhan lainnya.

4. Kamp pengungsi Al-Ruweished, terletak di wilayah Yordania sekitar 70 kilometer jaraknya dari perbatasan dengan negara Irak. Kamp pengungsi ini dibangun pada tahun 2003 dan menampung bukan hanya pengungsi Palestina, tapi juga warga Irak, warga kurdi Iran dan warga Somalia yang mengungsi karena kondisi di negaranya masing-masing.

Sebagian besar para pengungsi di kamp ini, yang bukan pengungsi Palestina, bisa berimigrasi ke negara lainnya seperti Australia, Kanada, Denmark, Selandia Baru, Swedia dan AS dengan proses yang cepat. Berbeda dengan pengungsi Palestina yang sulit mendapatkan akses untuk dipindahkan ke negara lain, bahkan ada 148 pengungsi Palestina yang sudah menunggu lebih dari empat tahun di kamp pengungsi Al-Ruweished tapi belum juga diungsikan ke salah satu negara tersebut. Sebagian mereka akhirnya mendapatkan suaka dari negara Kanada dan Brazil.